Kajian Bulughul Maram – [Lanjutan] Bab Penghilangan Najis dan Penjelasannya

Kajian Bulughul Maram, Pertemuan ke-8

Ustadz Bagus Priyo Sembodo

Masjid Al ihsan, Suryodiningratan, Kamis, 18/5/2017 Ba’da Isya

Ditulis oleh : Novie Najmi

 

Hadist ke- 25

Darinya (Anas bin Malik) , ia mengatakan bahwa disaat perang khaibar, Rasulullah memerintahkan Abu Thalhah untuk menyampaikan pengumuman. Lantas Abu Thalhah pun berseru, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang  kalian memakan daging keledai jinak (bukan yang liar) karena dianggap kotor.” (Muttafaq Alaihi).

Hadist ini mengingatkan kita bahwa memakan daging keledai jinak adalah haram, sedangkan memakan daging keledai liar adalah halal. Dan hadist ini juga menjadi dalil bahwa air kencingnya, darah dan kotorannya keledai jinak adalah haram  akan tetapi keringat, badan dan ludah, menjadi khilafiyah di kalangan ulama, najis atau tidaknya. Yang jelas kita tidak boleh memakan daging dan meminum susunya.

I’lal daripada keharaman keledai itu yakni kotor dan najis. Karena segala sesuatu yang najis, haram untuk dimakan karena mengandung madharat.

Tanya : Kok badannya keledai jinak itu nggak najis ?

Jawab : Banyak riwayat di jaman nabi tentang menunggang keledai, dan tidak mengganti bajunya setelah menungganginya.

 

Hadist Ke-26

Dari Amru Ibnu Kharijah, ia berkata bahwa Rasulullah pernah menyampaikan khutbah dari atas tunggangannya di Mina. Saat itu air liur hewan tunggangan tersebut mengalir diatas pundakku. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dengan menilainya sebagai hadist shahih.

Pelajaran atau hikmah yang bisa diambil adalah :

  1. Mengenai khotbah : boleh dilakukan diatas kendaraan dan pendengar boleh mendengarkan dibawahnya.

Hikmahnya : Posisi guru lebih tinggi dari murid. Kenapa diatas kendaraan ? supaya lebih terdengar dan terlihat oleh pendengar.

  1. Berkaitan dengan thoharah : hadist ini menunjukkan jelas bahwa ludah unta adalah suci. Semua ulama bersepakat tentang ini. Hadist ini turut menjadi dalil ludahnya hewan yang boleh dimakan seluruhnya adalah suci.

Tanya : Tahunya darimana ustadz, kok ludah unta nggak najis ?

Jawab : yakni dari nabi membiarkan dan tidak memerintahkan untuk membersihkan badan dan pakaian. Tidak berbuatnya nabi, juga merupakan petunjuk atas sebuah hukum.

Bahkan bukan hanya ludah, tetapi air kencing dan kotorannya ketika mengenai kain dan dipakai untuk sholat , tetap sah. Karena hukumnya suci.

Hadist ke-27

Dari ‘Aisyah ia berkata bahwa Rasulullah pernah mencuci (Membasuh) bagian pakaian yang terkena air mani. Setelah itu, Rasulullah keluar untuk menunaikan sholat dengan mengenakan pakaian tersebut. Saya sendiri masih melihat bekas cucian itu. (Muttafaq Alaihi).

Hadist ke 28

Dalam Riwayat muslim, disebutkan dengan redaksi ; Aku benar-benar pernah menggosok bekas air mani dari pakaian Rasulullah. Kemudian Rasulullah melaksanakan shalat dengan mengenakan pakaian tersebut. Masih dalam riwayat muslim disebutkan : Aku benar-benar pernah mengerik air mani yang sudah kering di pakaian beliau, dengan kukuku.

 

Penjelasan hadist ke 27 dan 28 :

ketika pakaian Rasul terkena air mani, cara rasul mensucikannya adalah dengan membasuh bagian yang terkena air mani. Dan ini sah dipakai untuk sholat.

Penjelasan untuk hadist no.28 : air mani kering yang menempel pada kain, cara mensucikannya boleh dengan mengikis/mengerik dengan kuku, tanpa dicuci. Ini tetap sah untuk sholat. Karena air mani tidak najis. Walaupun tidak najis, sebisa mungkin tetap dihilangkan.

Hikmah yang bisa diambil :

  1. Pola hidup sederhana

Pakaian Rasul adalah “multipurpose” alias serbaguna, beliau gunakan untuk tidur dan sholat. Hal ini menandakan bahwa kehidupan rasul begitu sederhana.

  1. Amalan untuk istri shalihah

Hadist ini mengisyaratkan kepada istri untuk cuci mencuci pakaian suami. Hihihi…. Ini termasuk amalan untuk istri yang baik 😀 seperti Aisyah yang mencucikan pakaian Rasul.

 

Yogyakarta, 19 Mei 2017

Advertisements

Bulughul Maram ~ Penyamakan kulit dari Bangkai- Pertemuan Ke-6

Kajian Bulughul Maram, Pertemuan ke-6

Ustadz Bagus Priyo Sembodo

Masjid Al ihsan, Suryoiningratan, Kamis, 27/4/2017 Ba’da Isya

Ditulis oleh : Novie Najmi

 

Hadist Ke-18

“Apabila kulit bangkai itu telah disamak, maka sesungguhnya kulit itu telah suci.”

Penjelasan :

  • Kulit itu bersumber dari : [1] Hewan yang disembelih dengan cara Syar’I [2] Hewan yang sudah menjadi bangkai (penjelasan bangkai ada di note pertemuan sebelumnya)
  • Jika bangkai : ketika diambil kulitnya , maka ia tetap bangkai yang statusnya tidak suci dan haram diperjualbelikan. Jika kulit ini disamak, maka kulit bangkai ini menjadi suci, hukumnya masih tetap “tidak boleh diperjualbelikan” walaupun kulit tersebut pada akhirnya digunakan untuk membuat barang-barang seperti tas, pakaian, dsb.
  • Pemrosesan penyamakan ini, mengubahnya menjadi suci.

 

Hadist ke-19

“Menyamak kulit bangkai itu berarti menyucikannya”

Hadist ini masih seputar samak, sehingga penjelasan tidak jauh berbeda dengan hadist sebelumnya.

 

Hadist ke-20

“Dari Maimunah r.a., beliau berkata : “Nabi SAW melewati kambing yang sedang ditarik, lalu beliau bersabda : “Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya ?” Mereka berkata : “Sesungguhnya ia sudah menjadi bangkai.”. Ia dapat disucikan oleh air dan daun qaradh.” 

 

Di dalam hadist ini, tampak bahwa dahulu kala sahabat belum mempunyai ilmu tentang bangkai yang tidak bisa dipergunakan. Kemudian Rasulullah memberi ilmu bahwa bangkai itu haram dimakan, dijual/dibarter tetapi boleh digunakan dan dihadiahkan dengan syarat sudah diproses melalui penyamakan. Sehingga hilanglah najisnya dan boleh dipakai untuk membuat barang-barang seperti tas, sepatu, dan sebagainya.

 

Yogyakarta, 29 April 2017