Sepertinya Kamu Perlu Menghafal Hadist-Hadist

Malam ini saya mendapatkan harta karun dari seorang teman, teman duduk dalam kebaikan. insya allah 🙂
ia bercerita tentang kisah imam bukhari yang memiliki kebutaan pada masa kecil. bagaimana beliau memiliki ibu yang begitu sabar, dalam mengajarkan Al-Qur’an.
 
sampai suatu ketika didalam majlis, seorang gurunda mengetes hafalan, imam bukhari lah yang berani untuk maju dan melafadzkannya. awalnya guru tersebut tidak percaya dengan kemampuannya. tapi kenyataan berkata lain.
Guru tersebut mengatakan bahwa “nak, kau ini sangat cerdas, kamu akan jadi ahli hadist.” (redaksinya kayak gini bukan yah, saya agak lupa. tolong cmiiw 🙂 ) lalu imam bukhari pulang dan meminta pada ibunya untuk diajarkannya tentang menghafal hadist-hadist.
ibunya menolak , karena melihat kondisi imam bukhari yang menurutnya tidak memungkinkan untuk itu. cukuplah dengan menghafal qur’an saja.
akhirnya ibunya dengan penuh tangis, berdoa dan terus mendoakan imam bukhari, nah di usianya yang masih kanak-kanak, ia pun sembuh dari kebutaan.
 
 
Hikmah yang saya dapatkan dari teman saya ini adalah :
dia bilang gini “Nov, jaman sekarang menghafal alqur’an itu mudah. Allah yang memberi kemudahan itu, waktunya bisa bervariasi, ada yang 40 hari bisa, ada yang setahun, ada 2 thun, bertahun-tahun, bahkan seumur hidup baru bisa ngehafal alqur’an, Allah beri kemudahan itu, bahkan dari mulai anak-anak sampai yang sepuh. tapi untuk hafal hadist-hadist nggak semua orang itu bisa nov…
 
 
nah kalo hafal quran, Allah yang jamin itu, buktinya banyak yang berhasil, ketika ia serius menghafal, tapi nov, ada hal yang terlupa oleh seorang penghafal, tatkala ia hanya menghafal, tanpa memahami, tanpa mengamalkan, tanpa mentadabburi, seolah ia menghafal tanpa ruh. hafalan itu akan mudah lenyap, dan hal yang bikin sedih hati adalah tatkala hafalan itu hilang disertai dengan kemaksiatan, futur, tanpa murojaah, usaha keras seperti lenyap begitu saja menguap.
 
begitulah obrolan malam minggu ini, terimakasih sudah mewarnai malam yang syahdu ini, disaat temen kosan yang lain pada diapelin ama pacarnya. 
Yogyakarta, 22 April 2017
Kosan Tercinta

(Sesungguhnya) KITA Yang Dirindukan Rasul, Bukan Sahabat ! WHY ?

Hari Rabu, 7 Oktober 2015 adalah Jadwal Kajian Tafsir anggota ODOJ (One Day One Juz) LOVERS Regional Yogyakarta, ini adalah kajian tafsir pertama yang kami adakan di bulan oktober ini. dan insya Allah akan kontinyu setiap Rabu pekan pertama pada bulan berikutnya.

Pertemuan pertama, Ustadz membahas tentang QS. Al Israa (17) : 9 yang berbunyi “Sungguh, Alqur’an ini memberi petunjuk  ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.”

Kemudian Ustadz menuturkan banyak cerita tentang Alqur’an ini. katanya “Al qur’an itu tidak perlu di update, ia berlaku sampe akhir zaman, isinya, kadang dibingkai dalam bentuk cerita yang sangat runtut dan sistemik, hanya saja Tafsirannya yang menyesuaikan zaman, contohnya Tafsir antara sahabat tentunya berbeda dengan tafsirnya para tabi’in tabi’ut .”

 

Adapun model metode tafsir menurut ibnu taimiyah itu ada 4 yaitu :

  1. Menafsirkan Alqur’an dengan ayat Alqur’an
  2. Menafsirkan Alqur’an dengan Hadist (As-sunnah)
  3. Menafsirkan Alqur’an dengan perkataan para sahabat
  4. Menafsirkan Alqur’an dengan pendapat para tabi’in tabiut

Sambil menjelaskan ustadz bercerita tentang isi alquran yang diantaranya :

1/3 Alqur’an berisi tentang Aqidah (Termasuk Tauhid)

1/3 Alqur’an berisi tentang Ubudiyah (tata cara beribadah kepada Allah)

1/3 Alqur’an berisi tentang Muamalah (Hablum min an naas)

Nah, hal yang paling saya suka ketika mendengar kajian beliau ini, beliau suka bercerita tentang sahabat. Ceritanya sangat epik dan apik. Hingga akhirnya salah satu teman saya bertanya waktu itu : “Ustadz Saya merasa iri kepada sahabat, kenapa saya tidak dilahirkan di masa Rasulullah, kenapa saya dilahirkan di jaman sekarang dan bagaimana cara menyikapi keadaan (keirian) yang demuikian itu?”

Kemudian beliau menjawab : “Berbahagialah kalian yang hidup di jaman sekarang, karena kita adalah umat yang dirindukan rasulullah. siapakah yang dirindukan Rasulullah ? ia adalah manusia yang tidak hidup di jaman rasul, tetapi ia mengimani ajarannya. Apakah malaikat juga dirindukan oleh Rasul ? tidak, karena pada dasarnya ia adalah makhluk yg diciptakan Allah dengan penuh ketaatan. apakah Sahabat? belum tentu, yang dinamakan sahabat adalah ia yang hidup di jaman rasul, bertemu dan mengimani ajarannya. taat kan? apalagi kalo ada ayat turun, para sahabat langsung mengimaninya tanpa berpikir panjang, “Ketika ia mendengar, maka ia patuh dan taat.” Kebayang kan bagaimana taatnya sahabat?.

Kemudian, MANUSIA YANG HIDUP DI JAMAN SEKARANG ? yang belum pernah melihat Rasulullah, dan tidak hidup di jamannya, Namun mengimani ajarannya, bersyukurlah dan beruntunglah ia, DUNIA yang penuh dengan godaan berat, nah itu diaaaa, ia yang dirindukan rasul. bukan malaikat bukan sahabat.

Masih ingat ketika Rasul akan meninggal ? siapa yang diingatnya ? Jawabannya adalah UMMAT nya. ummati… ummati..

Inget juga nggak ? cerita Uwais Alqarni, ia hidup di jaman Rasulullah, bahkan ia belum pernah bertemu Rasulullah, dengan perjuangannya ia yang menggendong ibunya dari yaman, hanya ingin bertemu Rasul, tapi ia tdk berjumpa dengannya. apakah ia dinamakan sahabat ? jawabannya adalah TIDAK. ia bukan sahabat.

Jadi, jangan iri lagi dengan sahabat. jangan iri dengan keimanannya, ketangguhannya, kesetiaannya terhadap nabi, Justru mestinya kita beruntung bahwa Rasulullah merindui orang yang senantiasa belum pernah bertemu dengannya namun mengimaninya secara sempurna.

Novi Suciati

Yogyakarta, 8 Oktober 2015