Teruntuk Kamu Yang Ingin “dipahami”

Kata gurunda saya dulu, kalo kita mau jadi psikolog, ya kita harus peka, mau memahami, mau mendengarkan. paham karakter orang, jadi kudu paham bagaimana kita bersikap.
 
harus menerima juga kalo orang bilang “Loh kamu psikolog loh, kamu seharusnya bisa pahamin saya.” walaopun nih yang namanya psikolog juga manusia, sama-sama ingin dipahami, didengarkan dan diperhatikan. Sama lah kalo urusan pengekspresian, sama kayak yang lain. tapi ya itu kalo salah, “diomonginnya itu jleb bnaget.”
 
 
bener kata guru saya, mau nggak mau ya itu sudah konsekuensinya. lah kalo nggak mau gitu yaudah jnagan jadi psikolog kalo gitu. hehe kaya udah jadi frame gitu ya.. Teman-teman saya yang sudah pada jadi psikolog, pasti lebih paham insya allah dalam menghadapi kaya ginian. udah biasa.
 
 
Jadi psikolog itu tambah tanggungjawabnya, harus bisa bener misahin masalah dalam dirinya dengan masalah oranglain. kalo kecampur, gawat, apalgi kalo permasalahn oranglain kecampur ke masalah pribadi dan mempengaruhi kehidupannya. tamatlah sudah. hmm
 
Tidak hanya itu, psikolog kebagian andil untuk menjaga kerahasiaan klien. yups karena itu bagian dari kode etik. kalo psikolog nya mulutnya ember, gawat juga. situ psikolog atau biang gosip. Terlepas dari perjanjian antara manusia dengan manusia. Sangkut pautnya juga sama Allah.
 
 
Itulah kenapa saya tertarik ingin menjadi psikolog. walopun sekarang belum jadi psikolog sih hehe… apapun yang terjadi saya ingin tetap memperjuangkan cita-cita saya.
Jujur ya, dari mempelajari psikologi, saya pribadi bnayak mengalami perubahan dalam hidup . banyak banget hal yang berubah, belajar dari banyak pengalaman orang sudah jadi database di otak dan hati saya. dan saya katakan Ini adalah anugerah yang Allah kasih sampai detik ini. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Allah kasih saya wadah sacara tidak langsung untuk tetap terus belajar menghadapi apapaun yang ada dan beragam lewat permasalahan oranglain.
dan itu semacam jadi penguatan diri untuk hidup jauh lebih bersyukur.
 
 
dan untuk teman-teman yang sedang berjuang menjadi psikolog, jangan mnyerah, terus semangat, mari tetap terus belajar 🙂
Yogyakarta, 23 Februari 2017
Kos Tercinta
 
 
Advertisements

Kebahagiaan anak, diawali dari kebahagiaan Orangtua

Anak yang memiliki perasaan bahagia, diawali dari orangtua yang bahagia. 😘
******

Waktu kemarin aku balik ke jogja, aku duduk dan berbincang dengan sebuah keluarga yg terdiri dari ayah, ibu, anak dan nenek.
Mereka akan berlibur ke jogja dan menginap di rumah saudara.
Sepanjang perjalanan purwokerto jogja, aku pandangi ibunya. Rupa2nya, ia mirip sandra dewi, KW super. Cantik, ramah dan murah senyum. Oh iya beliau juga memiliki anak umur 2 tahun. Yg sedang lincah-lincahnya bermain. Sebut saja namanya Mawar.

Sepanjang perjalanan, ia selalu tertawa, ceria, riang gembira, dia punya boneka kesayangan. Kalo kamu pernah nonton film the scorch trials, Kamu pasti tau nama boneka ini. Namanya sama dengan tokoh perempuan yang terkena virus flair. 😀

Ia terus memegang bonekanya, ketawa ketiwi, sepanjang perjalanan, ibunya ini aktif menjelaskan.
Ketika melewati sawah “dek coba liat itu ada pak tani dan bu tani, di sawah”

“Dek, liat itu ada kereta lewat, kaya thomas ya dek.”
“Dek kita sedang melewati terowongan gelap. “
“Dek, ada sungai banjir, airnya meluap. “

Mana, mana,…
Yah udah kelewat dek..

Dan kamu tahu, setiap ibunya bercerita, ayahnya menimpali.
Ayahnya ini juga aktif menimpali. Mengimbangi.
Neneknya juga, hingga akhirnya kita saling berbagi cerita di kereta.

Saat dia meminjam iphone ibunya, ia membuka aplikasi menggambar. Nah ternyata dia juga paham nama2 warna dalam bahasa inggris. Saat ibunya bilang, purple, yellow, brown, dia benar2 paham ngeklik warna itu, bbrapa kali aku perhatikan tidak hanya warna, ada kata yang dia sebut pake english. Rasa penasaranku terjawab sudah anaknya ini rajin buka kartun english di yutub ternyata.

Dari situ lagi2 belajar ttg komunikasi antara anak dan orangtua. Sekalipun, aku tak pernah melihat tangisan dari anak itu, rewel atau semacamnya. Jd ada kejadian bonekanya dia jatuh ke belakang, dia mau nangis, orgtuanya langsung katakan “tenang, mama akan ambilkan bonekamu” duh senyumnya itu loh sandra dewi banget. 3,5 jam di kereta terasa singkat.

Lagi lagi aku perhatikan lagi ibunya, dia tak jemu bercerita dan menjelaskan ke anaknya, tak jemu bercanda. Ayah nya juga gitu, menimpali.

Dari situ aku bertanya, “ibu, dedek Mawar emang selalu ceria ya?” “Iya, dia jarang nangis, ataupun rewel, alhamdulillah sejauh ini saya masih bisa mengontrolnya, dis juga nurut.”

Well, ini sangat berpengaruh bangt ke psikologis anak yah, betapa emosionalitas orangtua (dalam hal ini bahagia) memiliki energi untuk orang2 sekitarnya. Terutama anak.

***
Perasaan kita pada saat itu, jelas akan mempengaruhi komunikasi kita pada seseorang. Sepertinya, orangtua yang mungkin di rumah sering memarahi anaknya, berkata kasar, kebayang nggak “gambaran” anaknya akan seperti apa.
Sebagaimana kue, hasilnya tidak jauh dari cetakannya.
Dan sebagaimana buah, jatuhnya tidak pernah jauh dari pohonnya.

Begitu juga dengan perasaan yang selalu positif, akan mudah untuk memancarkan energinya pada sekitar.

Mungkin diluar sana Banyak orang yang siap menikah, bahkan sudah dikatakan mampu dalam hal menikah. Tapi mereka lupa bagaimana belajar menjadi ibu dan ayah.

Karena urusan menikah tidak hanya “aku” dan “kamu” menjadi “kita”.
Ada hal yang jauh lebih penting, yaitu anak-anak kita dan tujuan hidup kita di dunia dan akhirat.

Yogyakarta, 20 November 2016
Novie S

[Review Film] The Offering (2016)

The Offering (2016)

Sudah ada yang nonton film ini ? Kalo belum, jangan baca ini, spoiler banget. 😛

Jadi ceritanya seperti ini..

diawali dengan datanganya Seorang reporter muda ke singapura bernama jamie waters, ia ingin menyelediki alasan kenapa adiknya (Anna waters) meninggal, sepengetahuannya adeknya adalah orang yang kuat dalam menghadapi penyakit huntington-nya. Ia bukan orang yang lemah walaupun anaknya juga mengidap hal yang sama dg dirinya.
Menariknya alasan ia meninggal ada hubungannya dengan lewiatan. Menurut Alkitab, lewiatan adalah makhluk raksasa yang hidup di lautan. Ia mempunyai kulit sangat keras yang mampu menghancurkan semua senjata. Selain itu ia juga memiliki mata yang bercahaya yang digunakan untuk melihat di lautan yang dalam dan gelap. Tapi disini aku gagal paham, Lewiatan yang dihadirkan adalah versi baphomet. Ahahaha.

Seseorang yang meyakini lewiatan, ia akan mengorbankan dirinya untuk mati bunuh diri, dan pada hari ketujuh setelah kematiannya, lewiatan akan membangkitkan ia dengan kehidupan yang baru. Kejadian ini dialami oleh Anna penderita Huntington, Josh si ilmuan penderita penyakit mata, May si ahli IT penderita penyakit jantung, dan sebut saja Melati yang aku sendiri lupa namanya, yang di 10 tahun pernikahannya ia blm mendapatkan keturunan.

Setiap yang akan bunuh diri ia merekam kematiannya via camera computer. Dan video kematiannya otomatis di kirimkan kepada orang-orang yang memiliki penyakit. Anna mati dengan cara melilitkan dan menarik kain di lehernya, josh mati dengan menusuk matanya, Melati mati dengan menusuk perutnya dan mengeluarkan isi perut dengan tangannya, May mati dengan menusuk dan mengeluarkan jantungnya. Jadi ketika anna mati, lewiatan akan mengirim otomatis video anna pada penderita sakit yang lain, ia akan mengirim ke melati, dan ketika melati matipun otomatis videonya akan terkirim ke josh, dan ketika josh mati, ia mengirim ke may. Dan lewiatan ini memiliki data orang-orang yang berpenyakit yang kemungkinan memiliki keputusasaan dalam hidupnya.

Qadarullah, ternyata si Jamie, divonis Huntington juga oleh dokter. Dan video pas May bunuh diri, itupun langsung terkirim di emailnya.
Bahwa menyuruh Jamie untuk percaya, bahwa lewiatan akan menghidupkan kembali dengan kehidupan yang baru, dan itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Katie (putri anna yang terkena Huntington juga).
Apakah Jamie akan mati juga ? lalu bagaimana cara memusnahkan lewiatan ? Silahkan tonton sendiri di bioskop bagi yang belum menonton.😛

Sebelum aku tutup cerita ini, Ada yang menarik disini, Jadi, setelah menonton ini, aku menangkap pelajaran berharga, bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, tetap sabar dan kuatlah, jangan mudah menyerah dan berputus asa. Putus asa hanya dimiliki oleh orang-orang yang rapuh dan lemah jiwanya.
Setidaknya jika oranglain tidak ada yang mendukungmu, percayalah bahwa Allah selalu ada untuk mu. Banyak-banyak ingat Allah, tidak hanya dalam kesusahan, tetapi dalam masa-masa kita lapang dan bahagia. Itu akan menjadi sebuah kebiasaan kita untuk selalu bersyukur pada kehidupan ini. Dan aku ingin katakan “Jangan Mengeluh” jalani saja peran kita saat ini, jalani semaksimal yang kita bisa, jalani kesabaran dalam proses yang terkadang begitu sulit untuk kita lalui.

Yogyakarta, 21 November 2016
Kamar Kos Tercinta
Novie S

DISSOCIATIVE IDENTITY DISORDER (Gangguan Identitas Disosiatif)

DISSOCIATIVE IDENTITY DISORDER

(Gangguan Identitas Disosiatif)

 

Buku yang sampe sekarang belum pernah baca ataupun beli adalah buku yang berjudul Sybil, sybil gadis yang memiliki 16 Kepribadian. bisa dibayangkan ada 16 kepribadian, setiap waktu bisa berubah-berubah? kalo ada yang punya, aku pinjem yah 😀 atau mungkin bisa merefrensikan beli nya dimana gitu.

 

kalo anda sudah pernah menonton serial Hyde, Jekyll n Me atau Kill Me Heal me, mungkin sedikit2 kita bisa membayangkan hidupnya kayak apa.  kayaknya rumit yah… rumit memang, benar-benar rumit. tidak mudah menjalani kehidupan seperti itu.

 

hyde Jekyll n Me aja masih dua kepribadian, kalo siang jadi orang yang anti sosial, antipati, anti- anti yang lain, kalo malam jadi orang baik banget , penolong, romantis, senyumnya manis. Korea banget 😀

 

kalo kill me heal me, ada 7 kepribadian. bisa dibayangkan seorang laki-laki yang memang kodratnya gentle kemudian di waktu tertentu berubah kemayu jadi perempuan, berubah peran jadi perempuan, belum lagi kalo berubah jadi kepribadian/identitas yang lain, lelah nggak sih kalo dibayangin? setiap hari berganti ganti terus.

 

nah, gangguan semacam ini dalam psikologi dinamakan Dissociative Identity Disorder (DID) gangguan identitas disosiatif, atau bisa disebut multiple personality disorder.

kalo mau penjelasan lengkapnya bisa dilihat dibuku yah,, atau kalo mau baca sepintas bisa baca di webnya psychologytoday (versi bahasa inggris) versi indonesia ada banyak di gugel.

 

Dissociative Identity Disorder (DID) is a severe condition in which two or more distinct identities, or personality states, are present in—and alternately take control of—an individual. The person also experiences memory loss that is too extensive to be explained by ordinary forgetfulness.

 

di dua serial itu alasan utama yang melatar belakangi subjek mengalami DID adalah trauma masalalu, pada masa kanak-kanaknya, mengalami kekerasan fisik, batin, bisa jadi nggak cuma itu, itu hanya salah satu dari sekian beberapa faktor. semoga para orangtua yang punya anak-anak kecil, sangat benar-benar memperhatikan pola asuh yang baik untuk anaknya. mendidik anak-anak di jaman sekarang, masya Allah banyak ujiannya. semoga para orangtua senantiasa bijaksana.

itu cerita tentang sepintas tentang DID, semoga bermanfaat 🙂

 

Yogyakarta, 20 Januari 2016

Novie Suciati