Kajian Bulughul Maram – [Lanjutan] Bab Penghilangan Najis dan Penjelasannya

Kajian Bulughul Maram, Pertemuan ke-8

Ustadz Bagus Priyo Sembodo

Masjid Al ihsan, Suryodiningratan, Kamis, 18/5/2017 Ba’da Isya

Ditulis oleh : Novie Najmi

 

Hadist ke- 25

Darinya (Anas bin Malik) , ia mengatakan bahwa disaat perang khaibar, Rasulullah memerintahkan Abu Thalhah untuk menyampaikan pengumuman. Lantas Abu Thalhah pun berseru, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang  kalian memakan daging keledai jinak (bukan yang liar) karena dianggap kotor.” (Muttafaq Alaihi).

Hadist ini mengingatkan kita bahwa memakan daging keledai jinak adalah haram, sedangkan memakan daging keledai liar adalah halal. Dan hadist ini juga menjadi dalil bahwa air kencingnya, darah dan kotorannya keledai jinak adalah haram  akan tetapi keringat, badan dan ludah, menjadi khilafiyah di kalangan ulama, najis atau tidaknya. Yang jelas kita tidak boleh memakan daging dan meminum susunya.

I’lal daripada keharaman keledai itu yakni kotor dan najis. Karena segala sesuatu yang najis, haram untuk dimakan karena mengandung madharat.

Tanya : Kok badannya keledai jinak itu nggak najis ?

Jawab : Banyak riwayat di jaman nabi tentang menunggang keledai, dan tidak mengganti bajunya setelah menungganginya.

 

Hadist Ke-26

Dari Amru Ibnu Kharijah, ia berkata bahwa Rasulullah pernah menyampaikan khutbah dari atas tunggangannya di Mina. Saat itu air liur hewan tunggangan tersebut mengalir diatas pundakku. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dengan menilainya sebagai hadist shahih.

Pelajaran atau hikmah yang bisa diambil adalah :

  1. Mengenai khotbah : boleh dilakukan diatas kendaraan dan pendengar boleh mendengarkan dibawahnya.

Hikmahnya : Posisi guru lebih tinggi dari murid. Kenapa diatas kendaraan ? supaya lebih terdengar dan terlihat oleh pendengar.

  1. Berkaitan dengan thoharah : hadist ini menunjukkan jelas bahwa ludah unta adalah suci. Semua ulama bersepakat tentang ini. Hadist ini turut menjadi dalil ludahnya hewan yang boleh dimakan seluruhnya adalah suci.

Tanya : Tahunya darimana ustadz, kok ludah unta nggak najis ?

Jawab : yakni dari nabi membiarkan dan tidak memerintahkan untuk membersihkan badan dan pakaian. Tidak berbuatnya nabi, juga merupakan petunjuk atas sebuah hukum.

Bahkan bukan hanya ludah, tetapi air kencing dan kotorannya ketika mengenai kain dan dipakai untuk sholat , tetap sah. Karena hukumnya suci.

Hadist ke-27

Dari ‘Aisyah ia berkata bahwa Rasulullah pernah mencuci (Membasuh) bagian pakaian yang terkena air mani. Setelah itu, Rasulullah keluar untuk menunaikan sholat dengan mengenakan pakaian tersebut. Saya sendiri masih melihat bekas cucian itu. (Muttafaq Alaihi).

Hadist ke 28

Dalam Riwayat muslim, disebutkan dengan redaksi ; Aku benar-benar pernah menggosok bekas air mani dari pakaian Rasulullah. Kemudian Rasulullah melaksanakan shalat dengan mengenakan pakaian tersebut. Masih dalam riwayat muslim disebutkan : Aku benar-benar pernah mengerik air mani yang sudah kering di pakaian beliau, dengan kukuku.

 

Penjelasan hadist ke 27 dan 28 :

ketika pakaian Rasul terkena air mani, cara rasul mensucikannya adalah dengan membasuh bagian yang terkena air mani. Dan ini sah dipakai untuk sholat.

Penjelasan untuk hadist no.28 : air mani kering yang menempel pada kain, cara mensucikannya boleh dengan mengikis/mengerik dengan kuku, tanpa dicuci. Ini tetap sah untuk sholat. Karena air mani tidak najis. Walaupun tidak najis, sebisa mungkin tetap dihilangkan.

Hikmah yang bisa diambil :

  1. Pola hidup sederhana

Pakaian Rasul adalah “multipurpose” alias serbaguna, beliau gunakan untuk tidur dan sholat. Hal ini menandakan bahwa kehidupan rasul begitu sederhana.

  1. Amalan untuk istri shalihah

Hadist ini mengisyaratkan kepada istri untuk cuci mencuci pakaian suami. Hihihi…. Ini termasuk amalan untuk istri yang baik 😀 seperti Aisyah yang mencucikan pakaian Rasul.

 

Yogyakarta, 19 Mei 2017

Kajian Bulughul Maram, (lanjutan) tentang Wadah (aniyah) dan Bab Penghilangan najis dan penjelasannya. – Pertemuan Ke-7

Kajian Bulughul Maram, Pertemuan ke-7

Ustadz Bagus Priyo Sembodo

Masjid Al ihsan, Suryodiningratan, Kamis, 11/5/2017 Ba’da Isya

Ditulis oleh : Novie Najmi

 

 

Hadist ke – 22

Dari imran ibnu hushain,  disebutkan bahwa Rasulullah dan para sahabatnya pernah berwudu’ dari mazadah (tempat penampungan air yang terbuat dari kulit binatang) milik seorang perempuan musyrik. (Muttafaq ‘alaih)

 

Penjelasan lanjut mengenai hadist ini :

Boleh menggunakan mazadah (biasanya mazadah yang dipakai oleh orang musyrik adalah kulit dari hewan yang menjadi bangkai (karena tidak disembelih secara syar’i). Hadist ini menunjukkan Boleh (setelah disamak) selama wadahnya orang musyrik yang kita tidak tahu terkena najis misal babi, anjing, dsb. Hukum asalnya justru suci, boleh digunakan orang muslim jika ingin berwudhu. Jadi jika terkena badan orang non islam, tidak najis.

 

Tanya : Ustadz, bagaimana orang-orang yang menganggap orang  musyrik itu najis ? dengan diperkuat dengan Qs. At taubah : 28.

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

Jawab : Yang perlu ditafsir dari ayat ini ada 2 yaitu :

  1. Apakah makna “musyrikuna” ?

Ayat ini perlu dijelaskan, karena disalah artikan muslimin, menghukumi muslim lain. Misalnya : (1) masjid tertentu yang didatangi oleh muslim lain kemudian setelah orangnya pergi, masjidnya dibersihkan karena merasa itu najis (2) Jemuran pakaian yang terkena/tersentuh oleh muslim lain, kemudian dicuci kembali, karena menghukumi itu najis. Oleh karena itu, ayat ini perlu diperjelas lagi. Kalau tidak, semua orang yang dianggap syirik, bisa terkena ayat ini.

Sehingga Musrikuna, dalam ayat ini adalah nonislam, bukan muslim yang melakukan kesyirikan.

2. Apakah makna “najasun” ?

Najis dalam hal ini adalah bukan jasmaninya, tetapi aqidah dan amalannya. Jadi kalau ayat ini digunakan untuk menghukumi najis bagi sesama muslim , jelas ini salah.

 

 

Hadist ke – 23

Dari Anas Bin Malik , disebutkan bahwa bejana Rasulullah pernah retak, kemudian Rasulullah menambal bagian yang retak itu dengan pengikat dari perak (HR. Bukhari).

 

Penjelasan untuk hadist ini :

Hukum menggunakan perak untuk wadah pada asalnya adalah haram bagi laki-laki dan perempuan. Namun penggunaan “sedikit” perak untuk memperbaiki/menambal wadah itu diperbolehkan.

 

Berikut ini adalah hukum penggunaan emas dan perak :

  1. Emas dan perak, digunakan sebagai wadah –> hukumnya haram untuk laki-laki dan perempuan
  2. Emas dan perak, digunakan sebagai pakaian –>  Untuk perempuan (halal), untuk laki-laki (haram).
  3. Emas dan perak, digunakan sedikit untuk menambal, untuk memperbaiki supaya berfungsi, ini diperbolehkan.
  4. Emas (sebagai perhiasan) –> Digunakan perempuan (halal), jika digunakan laki-laki (haram)
  5. Perak (Sebagai perhiasan) –> digunakan oleh laki-laki dan perempuan, hukumnya halal.

 

BAB PENGHILANGAN NAJIS DAN PENJELASANNYA

Tanya : Ustadz, kalo pakaian kita terkena kotoran hewan itu najis nggak ?

Jawab : kotoran hewan yang halal dimakan maka tidak najis.  Misal : ayam. Kotoran ayam ini tidak najis à maknanya : Kotoran itu tidak menghilangkan kesucian dan sahnya ibadah. Jadi kalau orang kena kotoran ayam, shalatnya tetap sah. Tapi bukan berarti itu lantas dibiarkan saja yaaa, alangkah lebih baiknya dibersihkan.

 

 

Tanggapan Penulis :

Hehe nganu , ngrungokke iki, Njuk aku dadi kelingan jaman Ujian semesteran mbiyen pas SMA, aku nginjek telek bebek. Belum sempat ke toilet untuk dibersihkan karena jaraknya jauh, akhirnya langsung masuk kelas krena udah bel masuk, pas lagi garap soal , temen2 pada bilang “bau apa ini” sampe pada tutupan hidung, dan temen disampingku Tanya “nov, kamu bau sesuatu nggak sih?” dan aku Cuma bisa jawab “Iyo iki mambu yoo” . Akhirnya aku ungkap juga pengakuan dosa ini, di blog bhaha… astaghfirullah maafkan hambamu ini ya Allah… 😀 dan temen kelasku belum ada yang aku ceritain soal ini hahaha..

 

Nah, kebayang nggak sih, kalo ini terjadi pas sholat, sarung, celana atau rok kita ada teleknya, tapi kita biarin aja, terus orang yang disamping kita terganggu konsentrasinya, karena mencium sesuatu.

Pas wis Takbirotul ikhram, njuk ning jero ati bilang “mambu opo iki” . nah loh… 😀

 

Wis ah ceritane,

 

Cusss lanjut hadist selanjutnya :

 

Hadist ke- 24

Dari Anas bin Malik , ia mengatakan bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang khamr (minuman memabukkan) yang dijadikan cuka. Maka Rasulullah bersabda : “Tidak boleh” (HR. Muslim)

 

Penjelasan tentang hadist ini :

Apa itu khamr ? khamr adalah hal yang banyaknya memabukkan, terbuat dari fermentasi anggur, atau kurma atau sejenisnya. Selain khamr, nah hadist ini kan menyebutkan tentang cuka. Mari kita simak proses pembuatannya.

Jadi ketika anggur/kurma/sejenisnya diragi. Dia mengalami proses namanya fermentasi, sampai suatu saat dia mengalami fase khamr. Nah biasanya orang arab menandai khamr itu dari baunya, bau anggur semakin keras, biasanya lebih dari 3 hari. Nah khamr yang terus di fermentasi, bablas (tidak berhenti prosesnya), kmudian mengalami proses masa cuka.

 

Nah pertanyaannya adalah, apakah cuka ini halal ?

Jawabannya adalah Halal.

Dengan alasan : tidak ada proses pemberhentian pada saat sudah menjadi khamr, Proses fermentasi ini diteruskan sampai berakhir menjadi cuka.

Skema mudahnya seperti ini :

( Anggur –> (fermentasi) –> menjadi Khamr –>  (Fermentasi) –> menjadi Cuka –> HALAL )

 

Tanya : Bagiamana dengan hadist Rasul diatas, yang tidak membolehkan khamr dijadikan cuka ?

Jawab : skema mudahnya seperti ini :

# Proses 1

( Anggur –> (fermentasi) –> menjadi Khamr –> (Berhenti Proses) –>  (kalo sudah jadi khamr, jelas haram)

# Proses 2

Dari Khamr –>  (di fermentasi) –> menjadi Cuka –> HARAM

 

Penjelasan :

Ketika anggur di fermentasi kemudian menjadi fase khamr. Terus si pembuat menghentikan proses fermentasinya. Karena tujuan awal si pembuat adalah membuat khamr. ini jelas haram.

nah terus, si pembuat beberapa hari kemudian membuat cuka dari khamr tersebut. Maka jelas cuka ini jadi haram.

 

 

Tanya : bagaimana status khamr? apakah khamr itu najis?

Jawab : ada dua pendapat

  1. sebagian ulama mengatakan itu najis, diperkuat dengan QS. Al maidah : 90. Maka penggunaan khamr untuk campuran parfum pun tidak boleh
  2. sebagian ulama lainnya : mengatakan bahwa khamr itu haram tetapi tidak najis. Jadi alcohol itu haram tetapi tidak najis.

Tanya : Apakah yang haram itu najis ?

Jawab : Tidak, contohnya emas. Emas itu haram digunakan laki-laki, tetapi ia tidak najis. Begitu juga dengan sutra, ia haram untuk digunakan laki-laki, tetapi ia tidak najis.

————————

 

Wallahu a’lam Bisshowab

 

Pundong, Yogyakarta , 12 Mei 2017

 

 

 

Bulughul Maram ~ Penyamakan kulit dari Bangkai- Pertemuan Ke-6

Kajian Bulughul Maram, Pertemuan ke-6

Ustadz Bagus Priyo Sembodo

Masjid Al ihsan, Suryoiningratan, Kamis, 27/4/2017 Ba’da Isya

Ditulis oleh : Novie Najmi

 

Hadist Ke-18

“Apabila kulit bangkai itu telah disamak, maka sesungguhnya kulit itu telah suci.”

Penjelasan :

  • Kulit itu bersumber dari : [1] Hewan yang disembelih dengan cara Syar’I [2] Hewan yang sudah menjadi bangkai (penjelasan bangkai ada di note pertemuan sebelumnya)
  • Jika bangkai : ketika diambil kulitnya , maka ia tetap bangkai yang statusnya tidak suci dan haram diperjualbelikan. Jika kulit ini disamak, maka kulit bangkai ini menjadi suci, hukumnya masih tetap “tidak boleh diperjualbelikan” walaupun kulit tersebut pada akhirnya digunakan untuk membuat barang-barang seperti tas, pakaian, dsb.
  • Pemrosesan penyamakan ini, mengubahnya menjadi suci.

 

Hadist ke-19

“Menyamak kulit bangkai itu berarti menyucikannya”

Hadist ini masih seputar samak, sehingga penjelasan tidak jauh berbeda dengan hadist sebelumnya.

 

Hadist ke-20

“Dari Maimunah r.a., beliau berkata : “Nabi SAW melewati kambing yang sedang ditarik, lalu beliau bersabda : “Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya ?” Mereka berkata : “Sesungguhnya ia sudah menjadi bangkai.”. Ia dapat disucikan oleh air dan daun qaradh.” 

 

Di dalam hadist ini, tampak bahwa dahulu kala sahabat belum mempunyai ilmu tentang bangkai yang tidak bisa dipergunakan. Kemudian Rasulullah memberi ilmu bahwa bangkai itu haram dimakan, dijual/dibarter tetapi boleh digunakan dan dihadiahkan dengan syarat sudah diproses melalui penyamakan. Sehingga hilanglah najisnya dan boleh dipakai untuk membuat barang-barang seperti tas, sepatu, dan sebagainya.

 

Yogyakarta, 29 April 2017

 

Kajian Bulughul Maram – Bab Lalat dan Al – Aniyah ( Wadah/Bejana)

Kajian Bulughul Maram, Pertemuan Ke-5

Ustadz Bagus Priyo Sembodo

Masjid Al-Ihsan , Suryodiningratan, Kamis 20/4/2017 Ba’da Isya-Selesai

Ditulis oleh : Novie Najmi

 

Assalaamu’alaikum Wahai hati, apa kabar hari ini ? semoga tetap cerah yaaa.. walaupun dari habis subuh jogja diguyur hujan. Hati tetep cerah dong . Eh nggak tau ding, di belahan jogja yang lain entah hujan apa enggak, yang pasti timoho hujan 🙂 syahdu dan mustajab banget buat berdoa nih hehe. Betewe,  aku mau ngelanjutin kajian bulughul maram pertemuan ke-5 ini..

Lets Ceki..ceki…

# Hadist Tentang Lalat

Apabila jatuh lalat dalam minuman kalian, maka hendaknya kalian tenggelamkan lalat tersebut. Hendaklah dia memungut lalat tersebut dari minuman. Maka sungguh didalam salah satu sayapnya ada penyakit, dan di sayap yang lain , ada obatnya.

 

Masih Berkaitan dengan bab Thaharah nih, ulama mengambil hukum :

  1. Lalat itu tidak najis, baik dalam keadaan hidup ataupun mati, sehingga tidak menajiskan minuman yang dihinggapi
  2. Rasul memberitahu penelitian ilmiah mengkonfirmasi bahwa di dalam tubuh lalat ada penyakit. Dan hadist ini juga memberitahu bahwa di dalam sayap lalat yang lain ada obat. Nah obat yang ada didalam sayap lalat, bisa larut dalam air (cairan).

 

# Tanya : Bagaimana perlakuan pada minuman yang dihinggapi lalat ?

Jawab : (1) Menenggelamkan seluruh tubuh lalat kedalam air tersebut (2) Membuang lalatnya. Dua tindakan tersebut, membuat minuman aman untuk dikonsumsi.

# Tanya : Bagaiamana seandainya lalat tersebut tidak ditenggelamkan?

Jawab : Jika lalat tidak ditenggelamkan, maka minuman tersebut tidak najis, namun terkontaminasi penyakit.

 

# Tanya : Bagaimana  jika lalat itu menghinggapi benda padat ? semisal roti, kue dsb

Jawab : berarti lalat itu menularkan penyakit, caranya adalah dengan membuang bagian yang terkena lalat.

# Hikmah yang bisa diambil adalah :

Jadi nasehatnya adalah : Hendaklah menjaga makanan yah, biar nggak dihinggapi lalat 🙂

 

Hadist Selanjutnya :

# Hadist tentang Pemotongan anggota tubuh hewan yang masih hidup

Contoh :

  • Ada sapi yang dipotong kakinya yang sebelah kanan, kemudian kakinya digoreng atau digulai. Walaupun darahnya mengalir, ini masuk dalam kategori bangkai, karena sapi dipotong pada saat masih hidup.
  • Pengambilan bulu domba yang masih hidup, ini juga masuk kategori haram. Karena pemotongan bagian tubuh hewan halal yang masih hidup masuk kategori bangkai.
  • Bagaimana kalau ikan ? Jika ikan masih hidup, dan dipotong bagian tubuhnya, ini halal.

 

Hadist selanjutnya…

# Hadist Tentang Al- Aniyah (Segala sesuatu yang berhubungan dengan wadah, baik panci, ember, baskom, piring, gelas, dsb..)

Janganlah kalian minum dalam wadah emas dan perak, pada asalnya hukumnya adalah haram. Dan janganlah makan pada piringnya, sesungguhnya wadah yang terbuat dari emas dan perak itu digunakan oleh orang kafir.

 

  • Larangan ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan , tak terkecuali. Sedangkan memilikinya tidaklah berdosa.

 

# Hadist selanjutnya…

Orang-orang yang minum di wadah tersebut, hanyalah menuangkan api jahannam kedalam perutnya. Maksudnya adalah Hal ini haram, dan amalan tersebut memasukkannya ke dalam neraka.

 

Penutup :

Hikmah dari pelarangan ini adalah untuk mencegah sikap hidup sombong dan berlebih-lebihan. Nggak kebayang deh kalau ini di halalkan, orang macam kaya raya nggak Cuma makan minum pake wadah emas, bisa-bisa  bikin WC juga pake emas, “Nyoh,, WC ku terbuat dari emas” bhahaha-  bah! Pamer, sombongnya 😀 nah ini nih yang nggak boleh 🙂

 

Jazakumullah khairan Katsir

Sudah membaca, mohon koreksi jika ada kesalahan penulisan 🙂

 

Yogyakarta, 21 April 2017

Alfaqir Ila Allah

Novie

 

Kajian Bulughul Maram – Pembahasan Dari mulai Kucing, Arab Badui “pipis” di masjid , sampai pembahasan Bangkai

Kajian Bulughul Maram , Pertemuan Ke-4
Masjid Al Ihsan, Suryodiningratan, Kamis, 13/4/2017 Ba’da Isya-selesai.
Ustadz  Bagus Priyo Sembodo

Ditulis oleh : Novie Najmi

 

— Lanjutan

# Membahas Hewan Kucing

Kucing adalah hewan domestik yang suka “glibat-glibet” bergaul dengan orang.

Tanya : Apakah Kucing ini Najis ? dan bagaimana bila terkena jilatannya?

Jawab : Jilatan Kucing tidak najis, begitu juga dengan bulunya. Tidak najis.

Pada hadist yang membahas masalah ini, Ulama mengambil pemahaman yang ajib nih. Jadi kucing termasuk hewan yang suka bergaul dengan manusia, kalau dinyatakan najis jadinya repot banget. Oleh karena itu, ini termasuk dalam kaidah almasaqqah tajallibut taysir, dimana “kesulitan itu memunculkan kemudahan.” Oleh karena itu diqiyaskan dengan kucing, segala hewan yang meskipun haram dimakan akan tetapi apabila manusia itu berdekatan dengan hewan-hewan itu, seperti keledai, dkk maka itu tidak najis, bahkan jilatannya juga tidak najis.

Jadi boleh banget kalo kita menyentuhnya, membelai kucing, walaupun kita tahu dia itu sering mandi jilatin tubuhnya tapi nggak pernah cebok apalagi pake pampers. Tapi konon kalo dilatih, kucing pipisnya itu katanya bisa disesuaikan gitu ya, di pasir khusus atau semacamnya begitu.

 

Oke kita bahas hadist selanjutnya yaa..

# Tentang seorang Arab desa yang pipis sembarangan di pojokan masjid.  Dan orang banyak itu marah-marah (nesu, menghardik, arep diantemi), lalu Rasul melarangnya, agar menunggu ia selesai kencing kemudian disiramkannya air keatasnya. Maksudnya disiram pipisnya yah, bukan orangnya yang disiram.

Dari hadist ini, ada beberapa masalah yang serius :

  1. Tidak boleh kencing di Masjid
  2. Soal kebodohan , orang berbuat kesalahan itu sebabnya macam-macam :

Diantaranya disebabkan karena durhaka (jahat) dan bodoh (tidak tahu kalo perbuatan itu salah).

Maka terhadap orang yang bodoh sebaiknya jangan marah-marah, karena tidak menyelesaikan masalah. Kepada orang bodoh, caranya adalah diajari dengan sabar. Dan kita bergaul dengan muslim itu menghadapi berbagai macam tingkat kepandaian yang berbeda-beda.

# Hikmahnya adalah : Hadist ini sangat penting dan berkesan kalo kita belajar dakwah. Mengapa hadist ini sangat penting ? Karena memahamkan pada kita tentang pentingnya arti kesabaran, bagaimana kita menghadapi beragam jenis orang di masyarakat. Salah satu contohnya adalah kebodohan ini, menghadapinya adalah dengan menjelaskan perlahan bukan dengan cara kasar.

  1. Mengenai hikmah dalam menyelesaikan masalah.

Janganlah menyelesaikan masalah dengan menambah masalah. Jadi kalau misalnya, orang arab desa yang kencing sembarangan itu diperlakukan dengan tidak baik ada beberapa dampak yang akan muncul :

  • Dia akan lari, dan air kencingnya akan kemana-mana. Najisnya kemana-mana.
  • Kalau orang arab tersebut digertak, dimarahi, besar kemungkinan ia tidak akan lagi kembali ke masjid
  • Jika ia terkaget, Bisa menyebabkan sakit dibagian skrotum (penjelasannya saya kurang paham, coba nanti saya tanyakan ke ahlinya).

 

  1. Cara menyucikan tanah yang terkena najis (kencing tersebut)

Dengan cara menyiram tanah dengan air, dan membiarkan air meresap kedalam tanah.  Jadi kalau misal tanah ini mau dibuat sholat diatasnya, itu boleh. Karena sudah dibersihkan.

 

Clear yah ?

 

Okeh kita bahas hadist selanjutnya, tentang Bangkai.

What is the bangkai ? Bangkai adalah hewan yang mati dengan cara tidak syar’I, contoh :

  1. Ada ayam lari-larian di rumah, terus lantai baru di pel, kotor lagi, pembantu di rumah nglempar ayam itu pake batu, hingga akhirnya mati. Ini disebut juga BANGKAI.
  2. Ada Wedhus (Kambing) lewat di jalan raya, tanpa tengak tengok ke kanan kiri, nggak lewat zebracross pula, ndilalahnya ada mobil lewat dan tertabraklah kambing itu, Qadarullah, sebelum kambing diperiksa dan diinfus sama dokter, kambing itu mati, ditengah jalan. Maka ini disebut juga BANGKAI.
  3. Ada Sapi masuk angin, eh belum sempat dikerokin, belum sempat juga dipijatin, belum sempat minum tolak angin . Eh udah mati aja tuh sapi!. Welahdalah.. durung sempet disembelih wis mati. Padahal harganya 20 juta. Rugi Bandar! Tolong jangan ditangisin, yang sabar ya,,puk pukk..puk. Ini juga masuk kategori BANGKAI.

 

Ketiga hewan diatas yang pada dasarnya halal untuk dimakan tapi mati dengan cara tidak syar’I , maka dihukumi HARAM. Karena pada dasarnya hukum bangkai adalah HARAM. Kecuali bangkai ikan dan belalang. Bahkan jika keduanya (ikan dan belalang) mati didalam air, walaupun airnya berbau, air tersebut tidak menjadi najis.

 

 

Demikian penjelasan singkat pertemuan keempat, mohon dikoreksi barangkali ada kesalahan 🙂

 

Ttd

Al-faqir ilallah

Yogyakarta, 14/4/2017

Bab Thaharah – Bolehkah Seorang Suami/Istri mandi Junub dengan sisa air pasangannya?

Alhamdulillah Allah masih ijinkan saya untuk menghadiri majlis, dan menuliskannya kembali disini 🙂 semoga bermanfaat 🙂

 

Kajian Bulughul Maram , oleh Ustad Bagus Priyo Sembodo

Kamis, 6/4/2017 di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan, Ba’da Isya

 

—– Lanjutan ——

Masih bab Thaharah

  • Seorang laki-laki dilarang mandi menggunakan sisa thaharah seorang perempuan. Demikian pula sebaliknya.

Tanya : Ustad, berarti kalo istri saya mandi pake ember, terus sisa airnya masih ada banyak, nggak boleh dipake mandi, sayang dong ustad buang-buang air sedangkan air lagi susah?

Jawab : Bukan begitu, inilah pentingnya mengaji, nggak bisa secara plek memaknai apa yang kita lihat dibuku. Tapi kondisi yang dimaksud adalah kalo misal perempuan tersebut mandi junub dengan memasukkan dirinya ke ember/bak. Kemudian air tersebut dipake juga oleh suaminya untuk mandi, ini yang nggak boleh. Beda kasus kalo misal mandi di ember, terus mandinya dengan cara diciduk (pake gayung) istri tidak memasukkan diri kedalam ember, ini tidak apa-apa, kalo sisanya dipake buat mandi kalo misal airnya masih banyak. Bahkan Rasul pernah mandi dari sisa air istrinya yang saat itu bersuci karena haidh.

 

  • Thaharah karena Najis Mugholadoh (Najis Berat)

Tanya : Sebenarnya Anjing itu yang najis apanya ustadz?

Jawab : Ada beberapa perbedaan pendapat :

  1. keseluruhan badan anjing adalah najis, jadi kakinya, badannya, air liurnya dll semua najis.
  2. Air liurnya saja yang najis
  3. Air liur anjing yang bertemu dengan barang basah, berarti selain yang basah, tidak najis.

Tanya : Bagaimana cara mensucikannya?

Jawab : jadi pensuciannya tidak bisa hanya dibasuh satu atau 2x saja, tetapi dengan dibasuh sampai 7x, salah satunya dicampuri dengan tanah. Boleh diawal atau diakhir. Tapi pada umumnya, dilakukan di awal.


 

Mohon maaf, jika ada kesalahan dalam penulisan, ingatkan selalu kawanmu ini, yang faqir ilmu 🙂 jangan sungkan-sungkan

Intisari Video – Ustad Nouman Ali Khan – Doa Disaat Sulit

Ada beberapa poin yang saya dapatkan dari video  Ustad Nouman Ali khan – Doa Disaat Sulit  ini :
 
1. Doa nabi musa dalam QS Al-Qashas : 24 “Rabbiy Inniy limaa anzalta ilayya min khairin faqir” Artinya : “Ya TUhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku,”
 
2. Nabi musa yang berada dalam keadaan dimana ia sedang dikejar-kejar untuk dibunuh, ia tidak memiliki perbekalan, atau apapun yang membuat ia bertahan hidup.
 
3. Nabi musa menebus kesalahan terdahulunya dengan jalan membantu dua wanita, meminumkan hewan ternaknya di sungai.
 
4. Di kisah ini, Ayah dari dua wanita tersebut menawarkan nabi musa dengan memilih salah satu anaknya, yang akhirnya dijadikan istrinya.
 
5. nabi musa juga bekerja dengan ayah mertuanya.
pelajaran yang bisa diambil adalah : bekerja dibawah mertua tidak merendahkan harga diri seorang lelaki, bahkan nabi musa bekerja selama 8 tahun.
 
6. Ketika manusia berada dalam kondisi sulit, ketika ada orang yang menawarkan bantuan, jangan ditolak, itu adalah jalan dari Allah untuk membantu mns. Jangan berpikiran ketika seseorang membnatu, dia menghina kita, atau kita gengsi. tidakkk, buang jauh-jauh pikiran itu, intinya itu adalah jalan Allah untuk mmbantu kita.
 
 
Alhamdulillah, Semoga Allah senantiasa memberikan kita hati yang lapang ya, untuk terus bersyukur apapun kondisi kita dan tetap berpikiran positif. 🙂