Belajar Meraih Cita-Cita pada Ayam Betina Yang Bertelur

Setahun yang lalu, ada seorang guru yang memberikan nasehat pada saat KRPH di mardhiyyah.
Beliau bilang gini :
“Kalo kamu punya cita-cita, belajarlah dari ayam yang bertelur. ayam kalo habis bertelur, dia akan berteriak petok…petok..petok….dia berteriak karena kaget. Liat telur berbentuk bulat, padahal dirinya memiliki , kaki, tangan dan sayap, terus dia bertanya “opo iki?” setelah menunggu 21 hari dierami, dia tidak bergeming untuk melayani pejantan.
 
 
dulu pertanyaanku adalah : Kenapa ayam bisa paham bahwa telur yang dihasilkan harus dierami? bagaimana cara berpikir ayam? bukannya hewan itu nggak mikir. Lalu aku berpikir bahwa, mungkin ini adalah jenis pertanyaan yang sia2 yang memang gak penting juga untuk dijawab. lalu akupun melupakannya.
kadang ada hal-hal yang tidak perlu kita pertanyakan secara detail. nah jawaban untuk menggembirakan hati : itu sudah takdir yang Allah kasih nak! jawaban itu sudah cukup. case closed 🙂
 
Esensi dari nasehat itu adalah bagaimana ayam benar2 fokus untuk mengerami telurnya, sampai akhirnya menetas menjadi pitik yang lucu2.
telor ini adalah ibarat cita-cita yang digadang-gadang seorang manusia. bagaimana manusia itu sabar, dalam menghadapi godaan, ujian, sabar dalam segala hal, ikhtiar untuk meraih apa yang diinginkannya. dan pada suatu hari cita-cita itu akan “menetas” pada waktunya.
dan ketika ingat ayam itu, aku ingat dengan cita-citaku. Aku punya satu cita-cita yang belum tercapai. Aku ingin menjadi psikolog. Kenapa psikolog ? karena aku sudah membuat peta perjalanan hidupku kedepan . dan menjadi psikolog adalah salah satu jalannya. aku punya rencana ini , ini dan itu. dan aku berdoa semoga Allah meridhoi cita-cita dan rencana-rencana terbaikku. Sekarang jika posisiku hanya lulusan S1 maka aku tidak akan menjadi psikolog dan dosen tentunya. berarti, Jalan yang harus aku tempuh adalah melanjutkan S2 magister profesi psikolog. ini adalah cita-cita yang aku susun dari kelas XI SMA. kalo boleh jujur nih, Aku tidak tahu apakah orangtuaku sanggup membiayaiku untuk kuliah lagi? mengingat satu semester di psikologi itu cukup lumayan, yaitu 11 Juta persemester. Sedangkan aku punya dua adik, yang kata orangtua juga pendidikannya nanti di perguruan tinggi juga tidak bisa diabaikan.
Aku memahami keadaan itu, ya ya ya, aku tidak bisa memaksakan keadaannya. Aku harus memahami kondisi orangtua. Rencana sehabis aku lulus adalah mencari beasiswa S2. atau aku menikah dengan orang kaya? terus aku dibayai..bhahaaha… ini becanda. eh tapi kalo beneran juga nggak papa, rezeki orang mana tau. dan sejujurnya aku tidak ingin menyerah hanya karna masalah biaya. Aku tahu, Engkau Maha Kaya ya Allah, untuk menguliahkan S2 bahkan S3 ku, Engkau pasti Sanggup ya Allah. Jadi dalam hal ini, aku tidak akan berputus asa, karena Engkau Maha Kaya Raya. Terimakasih Engkau selalu menguatkanku dalam keadaan apapun, bahkan dalam keadaan dimana aku terpuruk sendirian. Engkau selalu membuat aku konsisten dalam keceriaan di keadaan apapun itu saja sudah jadi hal yang sangat aku syukuri. Terimakasih sudah memberikan orangtua yang peduli tentang pendidikan-pendidikan anaknya 🙂
Yogyakarta, 27 April 2017
Kosan Tercinta

Sepertinya Kamu Perlu Menghafal Hadist-Hadist

Malam ini saya mendapatkan harta karun dari seorang teman, teman duduk dalam kebaikan. insya allah 🙂
ia bercerita tentang kisah imam bukhari yang memiliki kebutaan pada masa kecil. bagaimana beliau memiliki ibu yang begitu sabar, dalam mengajarkan Al-Qur’an.
 
sampai suatu ketika didalam majlis, seorang gurunda mengetes hafalan, imam bukhari lah yang berani untuk maju dan melafadzkannya. awalnya guru tersebut tidak percaya dengan kemampuannya. tapi kenyataan berkata lain.
Guru tersebut mengatakan bahwa “nak, kau ini sangat cerdas, kamu akan jadi ahli hadist.” (redaksinya kayak gini bukan yah, saya agak lupa. tolong cmiiw 🙂 ) lalu imam bukhari pulang dan meminta pada ibunya untuk diajarkannya tentang menghafal hadist-hadist.
ibunya menolak , karena melihat kondisi imam bukhari yang menurutnya tidak memungkinkan untuk itu. cukuplah dengan menghafal qur’an saja.
akhirnya ibunya dengan penuh tangis, berdoa dan terus mendoakan imam bukhari, nah di usianya yang masih kanak-kanak, ia pun sembuh dari kebutaan.
 
 
Hikmah yang saya dapatkan dari teman saya ini adalah :
dia bilang gini “Nov, jaman sekarang menghafal alqur’an itu mudah. Allah yang memberi kemudahan itu, waktunya bisa bervariasi, ada yang 40 hari bisa, ada yang setahun, ada 2 thun, bertahun-tahun, bahkan seumur hidup baru bisa ngehafal alqur’an, Allah beri kemudahan itu, bahkan dari mulai anak-anak sampai yang sepuh. tapi untuk hafal hadist-hadist nggak semua orang itu bisa nov…
 
 
nah kalo hafal quran, Allah yang jamin itu, buktinya banyak yang berhasil, ketika ia serius menghafal, tapi nov, ada hal yang terlupa oleh seorang penghafal, tatkala ia hanya menghafal, tanpa memahami, tanpa mengamalkan, tanpa mentadabburi, seolah ia menghafal tanpa ruh. hafalan itu akan mudah lenyap, dan hal yang bikin sedih hati adalah tatkala hafalan itu hilang disertai dengan kemaksiatan, futur, tanpa murojaah, usaha keras seperti lenyap begitu saja menguap.
 
begitulah obrolan malam minggu ini, terimakasih sudah mewarnai malam yang syahdu ini, disaat temen kosan yang lain pada diapelin ama pacarnya. 
Yogyakarta, 22 April 2017
Kosan Tercinta

Kamu kah Orang Yang Menyebalkan Itu?

Kamu tau gak? ada dua orang yang menyebalkan di dunia ini.  bukan versi forbes apalagi versi google,  tapi versinya aku,  iya… aku..

Orang itu adalah :

 

[1] Orang yang Fanatik/Cinta Buta/Taklid buta (About something or someone)

* contoh kasus :

“Pokoknya aku cuma mau sama dia, walopun dia nggak suka sama aku” padahal nyatanya kamu sudah ditolak dan sampe si cewek nikah dan punya anak, kamu masih tetap berharap sambil bilang “kutunggu jandamu”. Bang bang.. Lu lupa ya,  situ bukan irwansyah bang yang ngeluarin single album berjudul “kutunggu jandamu.”

 

* “pokoknya ahoax kudu menang jadi gubernur, dan gue berharap banjir bisa teratasi.  “

— Bang.. Bang lu lupa kali ya bang,  mana ada banjir bang di jakarta.  Catet ya!  Itu tuh genangan bukan banjir!  Situ sih kebanyakan dengerin lagu lawas “Sepanjang jalan Genangan” eh # kenangan .

 

* pokoknya kata ustad X hal macam xxxxx hukumnya haram.  Kalo tetep ngeyel,  situ tapir!

— bang,  bang situ lupa ya bang? sejak kapan lu jadi emaknya malin kundang,  yang bisa ngutuk manusia jadi Hewan.  Dimana-mana ngutuk mah jadi batu, bang.  Batu akik kek kan bisa dijual tuh..

 

[2] Orang yang kebelet ke belakang

Kalo berhadapan sama orang yang kebelet di ujung tanduk,  jangan ngarep deh situ bakal menang.  Wirosableng yang punya jurus kun*uk melempar buah aja kalah, power rangers yang punya member banyak aja bisa kalah,  kalah debat kali ya, atau kalah karena kena sikut.

Pernah nonton drama korea Marriage Not Dating?  Nah kaya gitu tuh,  ada dua orang yang memperjuangkan agar bisa masuk toilet.  Bussett toilet aja diperjuangin,  situ pernah diperjuangin gak?  Belum?  Duh kasian!

Orang yang bersaing karena diujung tanduk,  memiliki kenaikan rasa keberanian 2x lipat,  yang tadinya punya sifat pengalah,  bisa brubah jadi egois “pokoknya yang masuk,  gue dulu,  lu belakangan sehabis gue” pokoknya gueee.

Yang satu gak mau kalah.. “Gue yg punya rumah,  lu nongkrong aja di sungai ”

Gitu aja terus sampe Kucing tetangga belajar toilet training biar nggak pipis sembarangan.

 

Dua orang diatas hanyalah ilustrasi.  Mungkin ada diantara kita yang menjadi orang macam itu.  Menyebalkan dan nggak mau ngalah,  ngotot dengan nada “pokoknya..  Bla bla…blaaaa blaaaa…  ”

Kita gak mau dengerin oranglain,  karena kita merasa paling benar,  kita merasa pintar,  atau mungkin kita yang terlalu sombong untuk menerima sebuah nasehat atau kebenaran.

 

Mungkin kita perlu muhasabah lagi 🙂 Karena orang yang hatinya sangat keras dan tak punya sikap mawas diri yang bisa mencegahnya melakukan kesalahan,  disarankan untuk banyak-banyak mengingat kematian dan mendatangi orang-orang yang sedang sekarat.  (Said al khatir- ibnul Jauzi, hal 205)

 

Ah hidup 🙂 lagi2 kudu belajar nih,  belajar tawadhu,  belajar lebih bijaksana lagi dalam memahami masalah.

 

Jangan sampai nih, cermin hati berkarat,  padahal pohon cinta perlu perawatan di lahan yang subur dan harus disiram dengan air menyendiri yang berasal dari kejernihan berpikir (Said al khatir,  hal 68).

Yogyakarta,  25 Februari 2017

Novie Najmi

 

NB : sebenarnya Artikel ini terinspirasi dari pengalaman aku sendiri yang tadi kebelet kebelakang.  — duh maaf..  Eh ternyata nyambung juga kalo dibikin tulisan

Intisari Video – Ustad Nouman Ali Khan – Doa Disaat Sulit

Ada beberapa poin yang saya dapatkan dari video  Ustad Nouman Ali khan – Doa Disaat Sulit  ini :
 
1. Doa nabi musa dalam QS Al-Qashas : 24 “Rabbiy Inniy limaa anzalta ilayya min khairin faqir” Artinya : “Ya TUhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku,”
 
2. Nabi musa yang berada dalam keadaan dimana ia sedang dikejar-kejar untuk dibunuh, ia tidak memiliki perbekalan, atau apapun yang membuat ia bertahan hidup.
 
3. Nabi musa menebus kesalahan terdahulunya dengan jalan membantu dua wanita, meminumkan hewan ternaknya di sungai.
 
4. Di kisah ini, Ayah dari dua wanita tersebut menawarkan nabi musa dengan memilih salah satu anaknya, yang akhirnya dijadikan istrinya.
 
5. nabi musa juga bekerja dengan ayah mertuanya.
pelajaran yang bisa diambil adalah : bekerja dibawah mertua tidak merendahkan harga diri seorang lelaki, bahkan nabi musa bekerja selama 8 tahun.
 
6. Ketika manusia berada dalam kondisi sulit, ketika ada orang yang menawarkan bantuan, jangan ditolak, itu adalah jalan dari Allah untuk membantu mns. Jangan berpikiran ketika seseorang membnatu, dia menghina kita, atau kita gengsi. tidakkk, buang jauh-jauh pikiran itu, intinya itu adalah jalan Allah untuk mmbantu kita.
 
 
Alhamdulillah, Semoga Allah senantiasa memberikan kita hati yang lapang ya, untuk terus bersyukur apapun kondisi kita dan tetap berpikiran positif. 🙂

Berbicara “Baik” atau “Diam”

Bicara baik atau Diam.

 

Kebanyakan orang ketika berkenalan dengan orang psikologi, ujungnya minta dinilai kepribadiannya. atau disuruh baca perilaku dan semacam gambaran apa yang nampak pada dirinya. ini gak salah sih, mengingat hal yang salah kaprah ini sudah menyebar mungkin sampai ujung dunia kali yah >_< haha lebay!

 

sebenarnya seperti ini : di psikologi, dosen saya bilang gini “Jangan pernah menilai orang. menjudge dalam pikiran kamu, orang ini bla bla, padahal kamu bertemu pertama kali, hindari itu, jangan sok pintar menilai orang dengan mudahnya, apalagi hanya melihat sekali pandang, kamu bukan dukun. Ibaratnya gini Orang yang tatoan belum tentu penjahat, orang yang pake pakaian sarung, kopyah, belum tentu dia santri, atau penilaian2 lain yang ada di pikiranmu, buang jauh-jauh.” Dan saya pun merasa bahwa orang-orang yang tahu kesehariannya jauh berhak untuk menilai apakah dia baik atau tidak. Kamu tau kenapa pada proses  taaruf yang berujung pada pernikahan, si laki2 dan perempuan . merekomendasikan orang terdekatnya untuk menilai ? yak karena orang terdekatnya tau kebaikan dan keburukannya.  😀

 

 

pun demikian dalam media sosial, situ siapa berani-beraninya nyetatus nyinyirin orang,  kaya tau hidupnya aja, kayak tau kesehariannya aja. di dunia yang penuh dengan perang pemikiran ini, bahaya laten selalu ada, ujungnya bisa nembus batas nalar kesadaran,  sebagai individu yang berpikiran. Seolah-olah kita yang kemarin jadi orang yang ramah, santun dan manis, tiba-tiba jadi beringas, hanya karena dicekoki berita-berita dari media yang entah bener apa enggaknya. entahlah  mungkin Karena rajin konsumsi micin dalam jangka waktu lama atau kurangnya baca buku, atau kurang piknik, atau terlalu lama bersemedi jarang kumpul dengan orang-orang berwawasan yang bisa jadi guru kehidupan, atau memang ada yang mandeg di otaknya, sampe mikir yang jernih sulitnya minta ampun. =_=

 

 

ya gitu deh status yang bersliweran di temlen, dari mulai temen SD, SMP, SMA, kuliah, Organisasi, komunitas muncul di beranda facebook. Hmm.. isinya ya kaya gitu, gusti gusti. Nyinyir!. Kalo dipikir lagi, ya Allah kita ini siapa? Orang penting bukan, orang terkenal juga bukan, orang berpengaruh juga bukan, orang terkaya raya sedunia juga bukan, orang cantik ganteng melebihi cantiknya song hye kyo ama song jong ki juga bukan. Lantas kita ini bagian dari hamba-Mu yang seperti apa gusti? Sering saya mikir  kaya gitu, jangan-jangan kita ini penjahat yang sering njahatin orang dengan kata-kata kita, merasa seolah-olah jadi orang suci yang seenak jidat nilai orang tanpa tahu kejadian sebenarnya kayak gimana, nilai orang ‘dia jahat, dia korupsi, dia nerima suap, dia tapir, dia ah dia dia diaaaa..” jangan – jangan kita ini benar-benar buruk dihadapan-Mu gusti. Ampuni, ampuni ya Allah Gusti. Ampuni.. L

 

 

Novie Suciati

Yogyakarta, 27 Januari 2017