Berbicara “Baik” atau “Diam”

Bicara baik atau Diam.

 

Kebanyakan orang ketika berkenalan dengan orang psikologi, ujungnya minta dinilai kepribadiannya. atau disuruh baca perilaku dan semacam gambaran apa yang nampak pada dirinya. ini gak salah sih, mengingat hal yang salah kaprah ini sudah menyebar mungkin sampai ujung dunia kali yah >_< haha lebay!

 

sebenarnya seperti ini : di psikologi, dosen saya bilang gini “Jangan pernah menilai orang. menjudge dalam pikiran kamu, orang ini bla bla, padahal kamu bertemu pertama kali, hindari itu, jangan sok pintar menilai orang dengan mudahnya, apalagi hanya melihat sekali pandang, kamu bukan dukun. Ibaratnya gini Orang yang tatoan belum tentu penjahat, orang yang pake pakaian sarung, kopyah, belum tentu dia santri, atau penilaian2 lain yang ada di pikiranmu, buang jauh-jauh.” Dan saya pun merasa bahwa orang-orang yang tahu kesehariannya jauh berhak untuk menilai apakah dia baik atau tidak. Kamu tau kenapa pada proses  taaruf yang berujung pada pernikahan, si laki2 dan perempuan . merekomendasikan orang terdekatnya untuk menilai ? yak karena orang terdekatnya tau kebaikan dan keburukannya.  😀

 

 

pun demikian dalam media sosial, situ siapa berani-beraninya nyetatus nyinyirin orang,  kaya tau hidupnya aja, kayak tau kesehariannya aja. di dunia yang penuh dengan perang pemikiran ini, bahaya laten selalu ada, ujungnya bisa nembus batas nalar kesadaran,  sebagai individu yang berpikiran. Seolah-olah kita yang kemarin jadi orang yang ramah, santun dan manis, tiba-tiba jadi beringas, hanya karena dicekoki berita-berita dari media yang entah bener apa enggaknya. entahlah  mungkin Karena rajin konsumsi micin dalam jangka waktu lama atau kurangnya baca buku, atau kurang piknik, atau terlalu lama bersemedi jarang kumpul dengan orang-orang berwawasan yang bisa jadi guru kehidupan, atau memang ada yang mandeg di otaknya, sampe mikir yang jernih sulitnya minta ampun. =_=

 

 

ya gitu deh status yang bersliweran di temlen, dari mulai temen SD, SMP, SMA, kuliah, Organisasi, komunitas muncul di beranda facebook. Hmm.. isinya ya kaya gitu, gusti gusti. Nyinyir!. Kalo dipikir lagi, ya Allah kita ini siapa? Orang penting bukan, orang terkenal juga bukan, orang berpengaruh juga bukan, orang terkaya raya sedunia juga bukan, orang cantik ganteng melebihi cantiknya song hye kyo ama song jong ki juga bukan. Lantas kita ini bagian dari hamba-Mu yang seperti apa gusti? Sering saya mikir  kaya gitu, jangan-jangan kita ini penjahat yang sering njahatin orang dengan kata-kata kita, merasa seolah-olah jadi orang suci yang seenak jidat nilai orang tanpa tahu kejadian sebenarnya kayak gimana, nilai orang ‘dia jahat, dia korupsi, dia nerima suap, dia tapir, dia ah dia dia diaaaa..” jangan – jangan kita ini benar-benar buruk dihadapan-Mu gusti. Ampuni, ampuni ya Allah Gusti. Ampuni.. L

 

 

Novie Suciati

Yogyakarta, 27 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s