Kebahagiaan anak, diawali dari kebahagiaan Orangtua

Anak yang memiliki perasaan bahagia, diawali dari orangtua yang bahagia. 😘
******

Waktu kemarin aku balik ke jogja, aku duduk dan berbincang dengan sebuah keluarga yg terdiri dari ayah, ibu, anak dan nenek.
Mereka akan berlibur ke jogja dan menginap di rumah saudara.
Sepanjang perjalanan purwokerto jogja, aku pandangi ibunya. Rupa2nya, ia mirip sandra dewi, KW super. Cantik, ramah dan murah senyum. Oh iya beliau juga memiliki anak umur 2 tahun. Yg sedang lincah-lincahnya bermain. Sebut saja namanya Mawar.

Sepanjang perjalanan, ia selalu tertawa, ceria, riang gembira, dia punya boneka kesayangan. Kalo kamu pernah nonton film the scorch trials, Kamu pasti tau nama boneka ini. Namanya sama dengan tokoh perempuan yang terkena virus flair. πŸ˜€

Ia terus memegang bonekanya, ketawa ketiwi, sepanjang perjalanan, ibunya ini aktif menjelaskan.
Ketika melewati sawah “dek coba liat itu ada pak tani dan bu tani, di sawah”

β€œDek, liat itu ada kereta lewat, kaya thomas ya dek.”
β€œDek kita sedang melewati terowongan gelap. β€œ
β€œDek, ada sungai banjir, airnya meluap. β€œ

Mana, mana,…
Yah udah kelewat dek..

Dan kamu tahu, setiap ibunya bercerita, ayahnya menimpali.
Ayahnya ini juga aktif menimpali. Mengimbangi.
Neneknya juga, hingga akhirnya kita saling berbagi cerita di kereta.

Saat dia meminjam iphone ibunya, ia membuka aplikasi menggambar. Nah ternyata dia juga paham nama2 warna dalam bahasa inggris. Saat ibunya bilang, purple, yellow, brown, dia benar2 paham ngeklik warna itu, bbrapa kali aku perhatikan tidak hanya warna, ada kata yang dia sebut pake english. Rasa penasaranku terjawab sudah anaknya ini rajin buka kartun english di yutub ternyata.

Dari situ lagi2 belajar ttg komunikasi antara anak dan orangtua. Sekalipun, aku tak pernah melihat tangisan dari anak itu, rewel atau semacamnya. Jd ada kejadian bonekanya dia jatuh ke belakang, dia mau nangis, orgtuanya langsung katakan “tenang, mama akan ambilkan bonekamu” duh senyumnya itu loh sandra dewi banget. 3,5 jam di kereta terasa singkat.

Lagi lagi aku perhatikan lagi ibunya, dia tak jemu bercerita dan menjelaskan ke anaknya, tak jemu bercanda. Ayah nya juga gitu, menimpali.

Dari situ aku bertanya, “ibu, dedek Mawar emang selalu ceria ya?” “Iya, dia jarang nangis, ataupun rewel, alhamdulillah sejauh ini saya masih bisa mengontrolnya, dis juga nurut.”

Well, ini sangat berpengaruh bangt ke psikologis anak yah, betapa emosionalitas orangtua (dalam hal ini bahagia) memiliki energi untuk orang2 sekitarnya. Terutama anak.

***
Perasaan kita pada saat itu, jelas akan mempengaruhi komunikasi kita pada seseorang. Sepertinya, orangtua yang mungkin di rumah sering memarahi anaknya, berkata kasar, kebayang nggak “gambaran” anaknya akan seperti apa.
Sebagaimana kue, hasilnya tidak jauh dari cetakannya.
Dan sebagaimana buah, jatuhnya tidak pernah jauh dari pohonnya.

Begitu juga dengan perasaan yang selalu positif, akan mudah untuk memancarkan energinya pada sekitar.

Mungkin diluar sana Banyak orang yang siap menikah, bahkan sudah dikatakan mampu dalam hal menikah. Tapi mereka lupa bagaimana belajar menjadi ibu dan ayah.

Karena urusan menikah tidak hanya “aku” dan “kamu” menjadi “kita”.
Ada hal yang jauh lebih penting, yaitu anak-anak kita dan tujuan hidup kita di dunia dan akhirat.

Yogyakarta, 20 November 2016
Novie S

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s