Yoyoh Yusroh, Mutiara Yang Telah Tiada

YOYOH YUSROH, MUTIARA YANG TELAH TIADA

Oleh : Novie Suciati

Awalnya aku mengenal sosok ustadzah yoyoh yusroh dari seorang narasumber skripsiku, gaya parenting dan cara ia menyikapi berbagai permasalahan hidup mirip sekali dengan ibu 13 anak ini. Yah aku pikir beliau ini layak untuk menjadi penerus ustadzah yoyoh Yusroh hehe. Nah karena beberapa kali mendengar sosok Yoyoh Yusroh dalam ceritanya. Akupun penasaran ingin mengetahui ceritanya lebih lanjut. By the way, nggak sengaja nih, aku menemukan buku biografi Yoyoh Yusroh ini dalam rak buku seorang teman, tanpa tanggung-tanggung aku langsung pinjam untuk dibawa pulang.

Buku biografi Yoyoh Yusroh ini terbitan tahun 2011 oleh Gema Insani Press (GIP) dengan judul “Yoyoh Yusroh Mutiara Yang Telah Tiada” berisi 208 halaman, 17cm, yang disusun oleh tim GIP, yang dikumpulkan dari hasil wawancara keluarganya, dan beberapa situs yang sudah pernah menerbitkan berita tentang beliau, dan yang pasti, buku ini diterbitkan setelah Yoyoh Yusroh wafat. Bagi aku sendiri, buku ini menjadi pengingat untuk “hidupku”. Ah kalo baca isinya tuh jadi baper. Alamakkkkjahhhh… pengin nangis alias mbrebes mili.

Buku ini berisi 8 bagian, yang setiap bagiannya terdiri dari beberapa sub bagian yang menarik untuk dibaca dan kemudian aku renungi dan alhasil baper lagi, jiaaaahhh. Diantara 8 bagian itu antara lain tentang : (1) Belaian Islam Sejak Kecil (2) Pejuang Gerakan Jilbab (3) Hari-hari menuju pernikahan (4) Biduk Pernikahan (5) Pola Mendidik Anak (6) Personal-sosial-politik (7) Mujahidah Palestina (8) Akhirnya Engkau tersenyum. Bener deh ini terlalu mengaduk berbagai emosi (perasaan) di dalam hati.  Di buku ini  terdapat kata pengantar para tokoh seperti Tifatul Sembiring, Didin Hafidhuddin, Mutamimul ula, wirianingsih dan neno warisman yang berbicara tentang kebaikan beliau semasa hidup.

Exif_JPEG_420

Daftar Isi Buku Yoyoh Yusroh  Mutiara Yang telah Tiada (Kata pengantar dan Bagian 1)

Exif_JPEG_420Daftar Isi Buku Yoyoh Yusroh  Mutiara Yang telah Tiada Bagian 2 – 4

Exif_JPEG_420Daftar Isi Buku Yoyoh Yusroh  Mutiara Yang telah Tiada Bagian 5-6

Exif_JPEG_420Daftar Isi Buku Yoyoh Yusroh  Mutiara Yang telah Tiada bagian 7-8

Dari buku ini aku mendapat banyak pencerahan tentang hidup, aku mendapat gambaran bagaimana sosok ustadzah yoyoh di mata orang yang kenal beliau. Masya Allah, aku pikir ia bukan manusia, jangan-jangan malaikat yang menjelma manusia. 😀 Huss.. aku buang jauh-jauh spekulasi mengada-ngada ku itu. Ah pantesan narasumber skripsiku itu kagum dengan beliau, rupa-rupanya almarhumah ini memang wanita cerdas, dan mandiri sejak kecil, pintar berbahasa arab dan menguasai kitab kuning, memiliki hati yang lembut, penyayang, pemaaf dan penyabar dan satu lagi sifat langka yang jarang ada di jaman edan ini, “nggak pernah marah” pikirku, ada gitu ya orang macam beliau ini, aaah aku semakin kagum dibuatnya.

Beliau ini pejuang gerakan berjilbab pada tahun 1980-an, nah kita yang sekarang memiliki kebebasan berjilbab , maka bersyukurlah, bisa menutup aurat dengan sempurna. Hehehe.. dulu itu susah banget gila, poto ijazah aja harus keliatan kupingnya hihihi.. beliau ini tangguh, sampai turun ke jalan, demonstrasi, mengumpulkan massa loh, untuk memperjuangkan UU tentang dibolehkannya berjilbab itu, sampe ndobrak kebijakan menteri, sampe beliau pernah dipenjara sebentar, walaupun ujungnya dikeluarin lagi hehe.

Di cerita kehidupannya yang lain, Ustadzah Yoyoh Yusroh ini sampe dilamar 35 orang. Hmm bayangkan 35 orang, ditolak semua sama beliau dengan alasan masih kuliah. Alamakkk, satu gitu nggak ada yang nempel jah… 😀 ihihi tapi ada satu pemuda yang akan melamar beliau, dan orangtuanya nggak sanggup untuk menolak karena orangtuanya kenal dekat dengan si pelamar. Ia pemuda kaya raya, baru menjual tanah berhektar-hektar. Tapi sangat disayangkan, beliau menyangsikan semangat dakwah sang pelamar. Ia kemudian bingung apa yang harus ia lakukan. Akhirnya ayahnya mengatakan bahwa ia harus punya calon, agar ayahnya bisa memberi alasan untuk menolak lamaran. Iapun bercerita pada gurunya tentang masalah ini. Proses nya benar-benar singkat ketika ia bertaaruf dengan Budhi Darmawan (Yang akhirnya jadi suaminya), pak Budhi ini juga sedang merasa galau ketika ia berkuliah di psikologi UI, galau karena banyaknya godaan didalam kampus, tentang pergaulan dan beliau berpikir bahwa menikah adalah cara untuk menyelamatkan dirinya dari mahasiswi yang sukanya main cilukba-cilukbaan, maen tutup mata , tebak-tebakkan “Coba tebak ini siapa” . mbaca kisah ini asli aku keinget acara meisy ituloh tahun 90-an yang cilukba-cilukba an, ini anak kuliahan apa taman bermain ya, pikirku kala baca itu haha . Aduh jadi mbayangin geli. Nah akhirnya ustadz hilmi aminuddin menjadi perantara taarufnya. Hehe

Setelah pernikahan, kehidupan pun mulai berubah, apalagi setelah beliau melahirkan beberapa anak, dan menjadi DPR komisi VIII, jadwal padat, mulai sibuk. You know? Hal yang paling so sweet saat mereka mau tidur adalah mereka berdua saling berpegangan tangan.  haha aku jadi kebayang temenku yang kemproh nglakuin hal yang sama kayak gini ketika menikah, Pas lagi gandengan tangan dia bilang “pih, mamih mau ketoilet dulu, tangannya dilepas dulu yak,” | “Iya mih.” | (sesudah balik dari kamar mandi) pih ayo pegangan tangan lagi pih | (papih mencium bau sesuatu) Bau apa nih mih, kok tangan papih ikut lengket gini | “Alamakjah, ummi lupa cuci tangan pih | wkwkw. Ngakak aku mbayangin dia. Hehe ojo serius-serius toh nek moco 😀

Jujur ya, kisah beliau ini terlalu panjang untuk aku ceritakan. Sampai buku ini selesai aku baca, aku masih bertanya-tanya, ada nggak sih sosok pengganti seperti beliau ini di muka bumi Indonesia ini? Saat ia menjabat sebagai DPR, ia jujur, amanah. Ketika ia dirumah ia menjadi istri sepenuhnya yang mendidik anak dengan tarbiyah yang baik, ia yang pemaaf, penyabar, penyayang, dermawan, istri shalihah, tersenyum, mudah untuk membaur dan memiliki sosial yang bagus. Ia seorang Da’Iyah yang berdakwah kemana-mana, ia yang memperjuangkan hak-hak yang semestinya diperjuangkan, ia yang memiliki kebaikan yang tiada henti mengalir, ia yang sabar dalam segala cobaan, ia yang nggak pernah marah, ia yang bijak, ia yang memiliki banyak anak untuk dijadikan shalih-shalihah, ia yang meninggal dalam keadaan tersenyum. Ya Allah aku bertanya lagi, ada nggak yah sosok penggantinya di Indonesia ini? Sebagai manusia ia sempurna bagiku. Sesempurna waktu yang ia habiskan untuk berjuang di jalan dakwah , karena baginya “Hidup di dunia untuk bercapek-capek, istirahat sesungguhnya adalah surga, tidurnya sedikit aja.”  Jujur pas aku baca ini aku nangis, sejadi-jadinya. Ingat banyak hal, ingat waktu yang sudah aku habiskan untuk apa didunia ini, serasa menjadi manusia yang berdosa besar karena sudah menyia-nyiakan waktu luang-Nya.

Lagi-lagi aku tertampar oleh petikan nasehat-nasehat yang tercurah dari beliau untuk putra putrinya, di halaman terakhir. Serius –bikin nangis lagi- bikin aku semacam merenung, dan ingin mengikuti jejak beliau, yang hidupnya dalam kemuliaan Allah (insya Allah), yah beliau yang waktunya dihabiskan untuk berjuang meraih Ridho-Nya, dan sesibuk sibuk apapun beliau masih membaca Al-Quran 5-6Juz perhari. Dan menghafal kemudian mentadabburinya.

Semoga kita semua selalu diberi taufiq, hidayah untuk tetap lurus di jalan-Mu. Ya Allah.. tetapkanlah hati kami selalu pada-Mu. Terimakasih untuk Ustadzah Yoyoh Yusroh, engkau telah memberi banyak pelajaran padaku. Dan kamu tahu? Aku ingin berubah jadi lebih baik.

 

Yogyakarta, 20 Juli 2016

– The End-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s